Jumat, 09 November 2012

CINTA BERSEMI DI BAWAH PAYUNG BIRU

Cinta Bersemi di Bawah Payung Biru


Hujan deras mengguyur kota Jakarta. Membasahi Jalanan Sudirman 13 tempat dimana Cristy tinggal.
“Males banget… pagi-pagi sudah turun hujan, mana deres lagi, huufftt…!!!”  keluh Cristy saat ia mengintip dari balik jendela kamarnya.
Tok… tok… tok…
Pintu kamar Cristy ada yang mengetuk, bergegas Cristy membukakan pintu.
“Maaf… non, apa non Cristy sudah siap berangkat sekolah ? Pak Udin sudah menunggu dibawah.” Tanya pembantu Cristy yang tak lain bernama bibi Ida di ambang pintu.
“Ya tunggu bi, aku mau selesai kok!” jawab Cristy ramah.
“Ya udah non, bibi ke dapur dulu!” ujar bibi sambil ngeloyor pergi.
“Mari non silahkan masuk!!” perintah Pak Udin lembut sambil membukakan pintu mobil dengan segera agar anak majikannya itu tidak kehujanan.
Cristy menghempaskan pantatnya ke kursi, dilirik jam tangannya menunjukkan tepat setengah 7. Tak lama kemudian mobilnya sampai di SMA Gita Bahari tempat Cristy sekolah.
“Pak Udin nanti siang, Pak Udin nggak usah jemput aku ya. Aku ada belajar kelompok.” Ucap Cristy saat keluar dari mobil.
“Baik non.” Jawab supir Cristy segera melaju pergi.
“Minggir ini tempat gue !” omel Cristy pada cowok yang duduk dibangkunya saat masuk ke kelasnya.
“Nggak bisa gue yang datang duluan so… lo aja yang nyari tempat lain!!” balas cowok itu tak kalah suara meninggi.
“Huh… nyebelin banget sih lo, cowok songong.” ejek  Cristy pada cowok itu bernama Tristan.
 “Udah yuk Cris… cari yang lain aja.” Ajak Wina sambil menarik tangan Cristy, tetapi mata Cristy masih belum melepaskan mata Tristan.
Cristy dan Tristan 2 orang yang selalu membenci dan selalu dekat dengan permusuhan bila bertemu. Menurut orang sih mereka lebih pantes pacaran daripada musuhan. Gimana enggak Cristy cantik, imut, berambut panjang. Sedang Tristan ganteng, jago maen basket dan bertubuh atletis.  Tapi apa mungkin mereka bisa pacaran ya .…????
“Eh Cris ntar jadi ya belajar kelompok ke rumah aku?” Tanya Bristy saat mereka berada di kantin.
“Ya Cris harus cepet diselesaikan nih tugas dari Pak Handoko.” Timpa Wira semangat.
“Hmm!!” jawab Cristy singkat sambil mengaduk-ngaduk es jeruknya.
Dari tempat lain yang agak jauh, sepasang mata elang Tristan mengamati gerak – gerik Cristy. Merasa ada yang memperhatikan, Cristy bangkit dari duduknya dan menghampiri Tristan dengan penuh percaya diri.
“Eh napa lo ada yang salah sama gue… ha!!!” Cristy tampak marah sambil mendongakkan kepalanya kearah Tristan yang lebih tinggi darinya.
“Gak… gak ada!!” Jawab Tristan santai.
“Terus kenapa lo lihat – lihat gue, mang gue nggak tahu apa.” Balas Cristy berapi – api.
Tiba – tiba Tristan mendekatkan wajahnya ke wajah Cristy 5cm dan berbisik, “Kancing seragam lo nggak lo kancingin ya?? Atau lo sengaja!” 
Cristy langsung menutup mulut saking malunya mendengar pernyataan Tristan musuhnya lalu ia melirik bajunya, benar kancingnya ada yang belum dikancingkan. Maka ia bergegas lari ke kamar mandi.
“Eh Tan, lo apain Cristy??” Tanya Bristy khawatir.
“Iya nih kenapa Cristy sampai lari begitu ??” Timpa Wina.
“Gue nggak ngapa – ngapain.” Jawab Tristan seenaknya sambil meneguk es teh nya.
 “Bohong!! tu buktinya Cristy lari begitu. Pasti lo habis ngapa – ngapain dia kan ??” Tanya Fara tak percaya.
 Merasa dituduh terus, Tristan bangkit dari duduknya dan menggubrak meja. 3 cewek itu ketakutan.
“Denger ya kalian, elo,elo dan elo !!” telunjuk Tristan menunjuk Wina, Bristy, dan Fara.
“Lo buta ya ada yang aneh di baju temen lo itu, gue cuma ngingetin aja. Kalian yang temennya malah diam aja, temen macam apaan lo?” jawab Tristan sinis sambil ngeloyor pergi.
Cristy sudah membenahi kancing bajunya itu, lalu ia keluar ia bertemu dengan Tristan. Mata elang Tristan menatap mata cewek dihadapannya itu. Tiba – tiba Tristan mengembangkan senyum khasnya, senyum menyebalkan.
“Puas lo..” ujar Tristan seketika sambil ngeloyor pergi.
***
 “Mana sih Pak Udin.. lama banget jemputnya, oh ya tadi kan aku tidak suruh jemput, lupa gue…” ucap Cristy sambil menepuk keningnya. Cristy tidak jadi pergi ke rumah Bristy gara – gara kejadian tadi.
Jam 3, hujan belum juga reda. Cristy berteduh di depan sekolah.
“Pakai ini.” Seorang cowok yang tiba –tiba memakaikan jaket ke pundak Cristy.
“Tristan!” Cristy tak percaya.
Tristan membuka payung dan memayungi Cristy menuju halte, Cristy hanya menurut.
Dibawah payung, Cristy tak henti – hentinya menatap wajah tirus Tristan.
“Aaaa!!!” teriak Cristy saat mendengar suara petir, secara refleks ia membenamkan wajahnya ke leher Tristan.
“Sudah nggak pa - pa Cris.” ucap Tristan lembut sambil mengelus – elus rambut panjang Cristy.
Cristy baru sadar, tadi ia memeluk Tristan.
“Sorry tan, gue…”
“Ngak pa – pa cewek kan gitu kalo denger petir.”
Tristan meninggalkan Cristy bersama payung birunya di halte bus. Cristy masih bingung dengan refleksnya tadi. Dia duduk sambil menggenggam payung dari Tristan dan melirik jaket yang dipundaknya itu.
“Bi, tolong ni nanti dicuci ya!” perintah Cristy sambil menyodorkan jaket Tristan ke bibinya.
“Jaket siapa ini non?” Tanya bibi penasaran.
“Musuh.” Jawab Cristy menerawang jauh.
“Kok musuh non, pasti dari pacar non ya?” ucap bibi sok tahu.
“Asal bibi tahu ya, yang punya jaket ini thu orangnya nyebelin, keselin uuh…” kata Cristy geram “Lagian bibi tanya – tanya… sudah cuci dulu sana.” Tambah Cristy.
“Ya… ya non maaf.”
Malam hari di kamar Cristy.
Drrt… drrt… drrt
I new message
My enemy, Tristan
Gue harap lo nggak kenapa - napa setelah tadi lo kehujanan. Good night, have a nice dream.
Cristy mengerutkan kening, sebersit ada yang aneh di dadanya.
“Dasar cowok aneh.” Kata Cristy datar sambil menghempaskan tubuhnya ke kasur sedang tangan kanannya memegang ponselnya. Kali ini ia tertidur lelap dan tenang dimalam yang dingin.
***
“Hoaah” Cristy menguap lebar.
“Ujan lagi ujan lagi males banget.” Diliriknya jam dinding setengah 6 bergegas ia bangun dan langsung kekamar mandi dan jam 6 seperempat ia sudah turun dan bersiap sarapan.
“Maaf non.. Pak Udin lagi sakit, jadi hari ini nggak bias ngantar non sekolah.” Saut bibi saat ia meletakkan segelas susu coklat kesukaan Cristy.
“Sakit?? Sakit apa bi.. kalo soal berangkat jangan khawatir, aku bisa berangkat sendiri kok.”
“Demam non. Oh ya tadi mamah non telepon katanya pulangnya ke Indonesia dari Italia sekitar 1 bulan lagi.” Tambah bibi saat Cristy melahap roti selai strawberry.
“Sudah ah Cristy berangkat dulu ya bi.” Pamit Cristy pada bibi setelah meneguk susu coklatnya.
Bradd
Cristy membuka payung biru milik Tristan. Ia berangkat sekolah jalan kaki sambil berpayungan.
“Cristy !!” sapa seorang cewek dari dalam mobil dan membuka kaca mobilnya.
“Diva !!”
“Ayo naek aja Cris, cepet !” suruh Diva temen sekelasnya. Cristy hanya menurut saja.
“Tristan.” Sapa Cristy pada Tristan saat berada di koridor sekolah.
“Ini  jaket lo, thanks ya kemaren.” Kata Cristy sambil menyodorkan jaket jeans berwarna hitam ke Tristan.
“Udah !!” saut Tristan seraya meraih jaketnya dari tangan Cristy sambil ngeloyor pergi begitu saja.
“Cristy... Cristy lo kemaren kemana aja? Kenapa lo nggak jadi ikut kita, tapi kita udah nyelesein tugas Pak Handoko kok !!” jelas Wina saat menghampiri Cristy dari keadaan yang tidak mengenakkan barusan.
“Ya Cris lo aneh banget sih, tumben.” tukast Fara khawatir.
Pikiran Cristy masih tertuju pada Tristan, kenapa lo nglakuin barusan Tan, batin Cristy.
“Cris… Cristy.” Bristy melambaikan tangan ke arah temannya itu.
“Oh ya sorry sorry gue nggak denger, apa kalian ngomong apa ?, hari ini gue lagi males sorry ya.” Tanya Cristy bingung.
Ke tiga teman Cristy hanya menggelengkan kepala melihat keanehan yang ada pada diri sahabat mereka. Mereka membawa Cristy ke kelasnya. Di kelas mereka sudah ketemu Tristan, musuh Cristy.
“Mau apa lagi lo, mau cari perkara lagi sama gue. Belum puas lo apa yang udah lo lakuin kemarin ??” Tanya Cristy berkacak pinggang pada Tristan. Saat ia duduk di bangku Cristy dan mengembangkan senyum khasnya, senyuman yang membuat Cristy kesal.
“Ayo anak – anak duduk di tempat kalian.” Terdengar suara Pak Deddy guru Matematika masuk kelas, segera murid yang lain duduk di tempatnya.
“Kumpulkan PR kalian ke depan.” Suruk Pak Deddy.
Di kelas Cristy tak bisa konsen gara – gara sikap Tristan. Ia melamun saja di kelas hingga bel istirahat berbunyi.
Kali ini Tristan membuka kantong jaketnya. Ia menemukan sebuah surat berwarna biru.
Dear Tristan
Thanks ya lo udah tolong gue dari hujan. Lo rela pinjemin jaket dan payung  biru lo. Payung lo masih gue bawa. Entah kenapa gue suka payung lo tu, ada rasa sendiri saat gue lihat payung lo. Sekali lagi gue ucapin thanks.
Cristy

Tristan hanya tersenyum tipis saat membaca surat dari Cristy musuhnya itu.

***

“Gue duluan ya Cris… daaa...” lambaian tangan Wina menandakan ia pulang lebih dahulu setelah Fara, dan Bristy sudah dijemput pacar masing – masing.
Cristy membuka payung biru, payung  yang besar bermotif bunga – bunga berwarna biru itu sekarang berada di genggaman tangan lembut Cristy.
“Aaaa… !!!” teriak nya saat mendengar suara petir sambil menutup mata. Dari belakang, seorang cowok tiba –tiba memeluknya seakan memberi perlindungan.
“Tristan.” peluk Cristy ketakutan.
Tangan Tristan menarik payung yang ada di tangan Cristy, lalu tangan kirinya memegang tangan Cristy dan memayunginya menuju taman bunga dekat sekolah.
“Gue suka sama lo Cris.” Pertanyaan cowok dihadapannya membuat Cristy tersentuk kaget.
“Eh lo nggak sah nyari perkara lagi ya ma gue…  gue capek berantem mulu ma lo.” Ucap Cristy kasar dan berlari meninggalkan Tristan. Tetapi tangan Tristan dengan sigap menarik tangan Cristy dan meraihnya ke dalam dekapannya.
“Gue juga capek berantem mulu ma elo, setiap kali kita berantem gue lihat ada sesuatu yang beda dari dalam diri lo. Tiap malem gue juga mikirin lo terus, beberapa kali udah coba buat lupain lo, tapi tetep nggak bisa.” Katanya. Gagang payungnya masih dalam genggaman tangan Tristan.
“Tapi kita itu selalu bertengkar, apa mungkin kita cocok.” Elak Cristy sambil mendorong tubuh Tristan.
“Oke kalau gitu mungkin kita memang nggak bisa bersama.” Tristan seakan menyetujui pernyataan Cristy. Ia memberi genggaman payungnya ke tangan Cristy dan berjalan pergi.
Di bawah guyuran hujan deras dengan payung sebagai perlindungan Cristy menatap punggung laki – laki yang melangkah meninggalkannya.
“Tristan !” panggil Cristy sambil berlari memayungi Tristan.“Gue suka sama elo.”
“Apa.. gue nggak denger.”
“Gue suka sama elo. Gue suka sama elo, Tristan..!!” jawab Cristy dengan suara kencang. Seakan merasa lega telah mengungkapkan isi hatinya.
Tristan kemudian mengecup kening Cristy sambil menarik kembali genggaman payung birunya dari tangan Cristy.
“I miss you.” Ucap Tristan sambil mengembangkan senyuman. Kini senyum menyebalkan berganti dengan senyum penuh perhatian yang membuat hati Cristy meleleh.

Di tengah taman bunga, dibawah guyuran hujan deras dan dibawah perlindungan payung biru dalam genggaman Tristan. Cinta Mereka Bersemi.


THE END