listynazza
Senin, 14 Oktober 2013
diary ku
Hari ini aku menyaksikan langit yang cerah, aku pandangi sambil tersenyum, tiba-tiba langit yang cerah itu berubah menjadi awan hitam gelap gulita, aku sendiri di situ tak ada orang disampingku aku juga tidak beranjak dari tempatku berdiri, hingga akhirnya aku merasakan tubuhku tersiram air hujan. deras. aku mengangkat kedua tanganku keatas merasakan setiap tetesan air, aku menyukainya. aku tersenyum lalu aku mulai berajak lari. bukan mencari tempat teduh tapi berlari bersama hujan sejauh mungkin selama kakiku kuat selama hujan tak berenti,. aku menikmatinya. aku senang. aku bahagia. hujanlah yang tahu perasaanku saat ini. "ahh!" aku berteriak tiba-tiba. aku merasakan pergelangan tanganku ada yang menarik. ahh ternyata dia. "kamu kenapa?" tanyanya pada diriku. "Bukan urusan mu!" jawabku ketus dan tak menatap wajahnya. seketika ku menarik tanganku dan pergi darinya. saat itu petir pun terdengar keras hingga memekakkan telingaku. sejauh mungkin aku berlari dengannya,hujan yang ada disisi ku saat ini. aku tak ingin melihat belakang, sama seperti aku tak memikirkan cowok itu, cowok yang sudah membuatku benci kepadanya. karena yang aku butuhkan saat ini adalah hujan.
Jumat, 09 November 2012
CINTA BERSEMI DI BAWAH PAYUNG BIRU
Cinta Bersemi
di Bawah Payung Biru
Hujan deras mengguyur kota Jakarta.
Membasahi Jalanan Sudirman 13 tempat dimana Cristy tinggal.
“Males
banget… pagi-pagi sudah turun hujan, mana deres lagi, huufftt…!!!” keluh Cristy saat ia mengintip dari balik
jendela kamarnya.
Tok… tok… tok…
Pintu kamar Cristy ada yang mengetuk,
bergegas Cristy membukakan pintu.
“Maaf…
non, apa non Cristy sudah siap berangkat sekolah ? Pak Udin sudah menunggu
dibawah.” Tanya pembantu Cristy yang tak lain bernama bibi Ida di ambang pintu.
“Ya
tunggu bi, aku mau selesai kok!” jawab Cristy ramah.
“Ya
udah non, bibi ke dapur dulu!” ujar bibi sambil ngeloyor pergi.
“Mari
non silahkan masuk!!” perintah Pak Udin lembut sambil membukakan pintu mobil
dengan segera agar anak majikannya itu tidak kehujanan.
Cristy menghempaskan pantatnya ke kursi,
dilirik jam tangannya menunjukkan tepat setengah 7. Tak lama kemudian mobilnya
sampai di SMA Gita Bahari tempat Cristy sekolah.
“Pak
Udin nanti siang, Pak Udin nggak usah jemput aku ya. Aku ada belajar kelompok.” Ucap Cristy
saat keluar dari mobil.
“Baik
non.” Jawab supir Cristy segera melaju pergi.
“Minggir
ini tempat gue !” omel Cristy pada cowok yang duduk dibangkunya saat masuk ke kelasnya.
“Nggak
bisa gue yang datang duluan so… lo aja yang nyari tempat lain!!” balas cowok
itu tak kalah suara meninggi.
“Huh…
nyebelin banget sih lo, cowok songong.”
ejek Cristy pada cowok itu bernama Tristan.
“Udah yuk Cris… cari yang lain aja.” Ajak Wina
sambil menarik tangan Cristy, tetapi mata Cristy masih belum melepaskan mata
Tristan.
Cristy dan Tristan 2 orang yang selalu
membenci dan selalu dekat dengan permusuhan bila bertemu. Menurut orang sih mereka
lebih pantes pacaran daripada musuhan. Gimana enggak Cristy cantik, imut,
berambut panjang. Sedang Tristan ganteng, jago maen basket dan bertubuh
atletis. Tapi apa mungkin mereka bisa pacaran ya .…????
“Eh
Cris ntar jadi ya belajar kelompok ke rumah aku?” Tanya Bristy saat mereka
berada di kantin.
“Ya
Cris harus cepet diselesaikan nih tugas dari Pak Handoko.” Timpa Wira semangat.
“Hmm!!”
jawab Cristy singkat sambil mengaduk-ngaduk es jeruknya.
Dari tempat lain yang agak jauh,
sepasang mata elang Tristan mengamati gerak – gerik Cristy. Merasa ada yang
memperhatikan, Cristy bangkit dari duduknya dan menghampiri Tristan dengan
penuh percaya diri.
“Eh
napa lo ada yang salah sama gue… ha!!!” Cristy tampak marah sambil mendongakkan
kepalanya kearah Tristan yang lebih tinggi darinya.
“Gak…
gak ada!!” Jawab Tristan santai.
“Terus
kenapa lo lihat – lihat gue, mang gue nggak tahu apa.” Balas Cristy berapi –
api.
Tiba – tiba Tristan mendekatkan wajahnya
ke wajah Cristy 5cm dan berbisik, “Kancing seragam lo nggak lo kancingin ya??
Atau lo sengaja!”
Cristy langsung menutup mulut saking
malunya mendengar pernyataan Tristan musuhnya lalu ia melirik bajunya, benar
kancingnya ada yang belum dikancingkan. Maka ia bergegas lari ke kamar mandi.
“Eh
Tan, lo apain Cristy??” Tanya Bristy khawatir.
“Iya
nih kenapa Cristy sampai lari begitu ??” Timpa Wina.
“Gue
nggak ngapa – ngapain.” Jawab Tristan seenaknya sambil meneguk es teh nya.
“Bohong!! tu buktinya Cristy lari begitu.
Pasti lo habis ngapa – ngapain dia kan ??” Tanya Fara tak percaya.
Merasa dituduh terus, Tristan bangkit dari
duduknya dan menggubrak meja. 3 cewek itu ketakutan.
“Denger
ya kalian, elo,elo dan elo !!” telunjuk Tristan menunjuk Wina, Bristy, dan
Fara.
“Lo
buta ya ada yang aneh di baju temen lo itu, gue cuma ngingetin aja. Kalian yang
temennya malah diam aja, temen macam apaan lo?” jawab Tristan sinis sambil
ngeloyor pergi.
Cristy sudah membenahi kancing bajunya
itu, lalu ia keluar ia bertemu dengan Tristan. Mata elang Tristan menatap mata
cewek dihadapannya itu. Tiba – tiba Tristan mengembangkan senyum khasnya,
senyum menyebalkan.
“Puas
lo..” ujar Tristan seketika sambil ngeloyor pergi.
***
“Mana sih Pak Udin.. lama banget jemputnya, oh
ya tadi kan aku tidak suruh jemput, lupa gue…” ucap Cristy sambil menepuk
keningnya. Cristy tidak jadi pergi ke rumah Bristy gara – gara kejadian tadi.
Jam 3, hujan belum juga reda. Cristy
berteduh di depan sekolah.
“Pakai
ini.” Seorang cowok yang tiba –tiba memakaikan jaket ke pundak Cristy.
“Tristan!”
Cristy tak percaya.
Tristan membuka payung dan memayungi
Cristy menuju halte, Cristy hanya menurut.
Dibawah payung, Cristy tak henti – hentinya
menatap wajah tirus Tristan.
“Aaaa!!!”
teriak Cristy saat mendengar suara petir, secara refleks ia membenamkan
wajahnya ke leher Tristan.
“Sudah
nggak pa - pa Cris.” ucap
Tristan lembut sambil mengelus – elus rambut panjang Cristy.
Cristy baru sadar, tadi ia memeluk
Tristan.
“Sorry
tan, gue…”
“Ngak
pa – pa cewek kan gitu kalo denger petir.”
Tristan meninggalkan Cristy bersama
payung birunya di halte bus. Cristy masih bingung dengan refleksnya tadi. Dia
duduk sambil menggenggam payung dari Tristan dan melirik jaket yang dipundaknya
itu.
“Bi,
tolong ni nanti dicuci ya!” perintah Cristy sambil menyodorkan jaket Tristan ke
bibinya.
“Jaket
siapa ini non?” Tanya bibi penasaran.
“Musuh.”
Jawab Cristy menerawang jauh.
“Kok
musuh non, pasti dari pacar non ya?” ucap bibi sok tahu.
“Asal
bibi tahu ya, yang punya jaket ini thu orangnya nyebelin, keselin uuh…” kata
Cristy geram “Lagian bibi tanya – tanya… sudah cuci dulu sana.” Tambah Cristy.
“Ya…
ya non maaf.”
Malam hari di kamar Cristy.
Drrt… drrt… drrt
I new message
My enemy, Tristan
Gue harap lo nggak kenapa - napa setelah
tadi lo kehujanan. Good night, have a nice dream.
Cristy mengerutkan kening, sebersit ada
yang aneh di dadanya.
“Dasar
cowok aneh.” Kata Cristy datar sambil menghempaskan tubuhnya ke kasur sedang
tangan kanannya memegang ponselnya. Kali ini ia tertidur lelap dan tenang
dimalam yang dingin.
***
“Hoaah”
Cristy menguap lebar.
“Ujan
lagi ujan lagi males banget.” Diliriknya jam dinding setengah 6 bergegas ia
bangun dan langsung kekamar mandi dan jam 6 seperempat ia sudah turun dan
bersiap sarapan.
“Maaf
non.. Pak Udin lagi sakit, jadi hari ini nggak bias ngantar non sekolah.” Saut
bibi saat ia meletakkan segelas susu coklat kesukaan Cristy.
“Sakit??
Sakit apa bi.. kalo soal berangkat jangan khawatir, aku bisa berangkat sendiri
kok.”
“Demam
non. Oh ya tadi mamah non telepon katanya pulangnya ke Indonesia dari Italia
sekitar 1 bulan lagi.” Tambah bibi saat Cristy melahap roti selai strawberry.
“Sudah
ah Cristy berangkat dulu ya bi.” Pamit Cristy pada bibi setelah meneguk susu
coklatnya.
Bradd
Cristy membuka payung biru milik
Tristan. Ia berangkat sekolah jalan kaki sambil berpayungan.
“Cristy
!!” sapa seorang cewek dari dalam mobil dan membuka kaca mobilnya.
“Diva
!!”
“Ayo
naek aja Cris, cepet !” suruh Diva temen sekelasnya. Cristy hanya menurut saja.
“Tristan.”
Sapa Cristy pada Tristan saat berada di koridor sekolah.
“Ini jaket lo, thanks ya kemaren.” Kata Cristy
sambil menyodorkan jaket jeans berwarna hitam ke Tristan.
“Udah !!” saut Tristan seraya meraih
jaketnya dari tangan Cristy sambil ngeloyor pergi begitu saja.
“Cristy... Cristy lo kemaren kemana aja?
Kenapa lo nggak jadi ikut kita, tapi kita udah nyelesein tugas Pak Handoko kok
!!” jelas Wina saat menghampiri Cristy dari keadaan yang tidak mengenakkan
barusan.
“Ya Cris lo aneh banget sih, tumben.” tukast
Fara khawatir.
Pikiran Cristy masih tertuju pada
Tristan, kenapa lo nglakuin barusan Tan, batin Cristy.
“Cris… Cristy.” Bristy melambaikan
tangan ke arah temannya itu.
“Oh ya sorry sorry gue nggak denger, apa
kalian ngomong apa ?, hari ini gue lagi males sorry ya.” Tanya Cristy bingung.
Ke tiga teman Cristy hanya menggelengkan
kepala melihat keanehan yang ada pada diri sahabat mereka. Mereka membawa
Cristy ke kelasnya. Di kelas mereka sudah ketemu Tristan, musuh Cristy.
“Mau apa lagi lo, mau cari perkara lagi
sama gue. Belum puas lo apa yang udah lo lakuin kemarin ??” Tanya Cristy
berkacak pinggang pada Tristan. Saat ia duduk di bangku Cristy dan
mengembangkan senyum khasnya, senyuman yang membuat Cristy kesal.
“Ayo anak – anak duduk di tempat
kalian.” Terdengar suara Pak Deddy guru Matematika masuk kelas, segera murid
yang lain duduk di tempatnya.
“Kumpulkan PR kalian ke depan.” Suruk
Pak Deddy.
Di kelas Cristy tak bisa konsen gara –
gara sikap Tristan. Ia melamun saja di kelas hingga bel istirahat berbunyi.
Kali ini Tristan membuka kantong
jaketnya. Ia menemukan sebuah surat berwarna biru.
Dear Tristan
Thanks ya lo
udah tolong gue dari hujan. Lo rela pinjemin jaket dan payung biru lo. Payung lo masih gue bawa. Entah
kenapa gue suka payung lo tu, ada rasa sendiri saat gue lihat
payung lo. Sekali lagi
gue ucapin thanks.
Cristy
Tristan
hanya tersenyum tipis saat membaca surat dari Cristy musuhnya itu.
***
“Gue duluan ya Cris… daaa...” lambaian
tangan Wina menandakan ia pulang lebih dahulu setelah Fara, dan Bristy sudah
dijemput pacar masing – masing.
Cristy membuka payung biru, payung yang besar bermotif bunga – bunga berwarna
biru itu sekarang berada di genggaman tangan lembut Cristy.
“Aaaa… !!!” teriak nya saat mendengar
suara petir sambil menutup mata. Dari belakang, seorang cowok tiba –tiba
memeluknya seakan memberi perlindungan.
“Tristan.” peluk Cristy ketakutan.
Tangan
Tristan menarik payung yang ada di tangan Cristy,
lalu tangan kirinya memegang tangan Cristy dan memayunginya menuju taman bunga
dekat sekolah.
“Gue suka sama
lo Cris.” Pertanyaan cowok dihadapannya membuat Cristy tersentuk kaget.
“Eh lo nggak sah
nyari perkara lagi ya ma gue… gue capek
berantem mulu ma lo.” Ucap Cristy kasar dan berlari meninggalkan Tristan.
Tetapi tangan Tristan dengan sigap menarik tangan Cristy dan meraihnya ke dalam
dekapannya.
“Gue juga capek
berantem mulu ma elo, setiap kali kita berantem gue lihat ada sesuatu yang beda
dari dalam diri lo. Tiap malem gue juga mikirin lo terus, beberapa kali udah
coba buat lupain lo, tapi tetep nggak bisa.” Katanya. Gagang payungnya masih
dalam genggaman tangan Tristan.
“Tapi kita itu
selalu bertengkar, apa mungkin kita cocok.” Elak Cristy sambil mendorong tubuh
Tristan.
“Oke kalau gitu
mungkin kita memang nggak bisa bersama.” Tristan seakan menyetujui pernyataan
Cristy. Ia memberi genggaman payungnya ke tangan Cristy dan berjalan pergi.
Di bawah guyuran
hujan deras dengan payung sebagai perlindungan Cristy menatap punggung laki –
laki yang melangkah meninggalkannya.
“Tristan !”
panggil Cristy sambil berlari memayungi Tristan.“Gue suka sama elo.”
“Apa.. gue nggak
denger.”
“Gue suka sama
elo. Gue suka sama elo, Tristan..!!” jawab Cristy dengan suara kencang. Seakan
merasa lega telah mengungkapkan isi hatinya.
Tristan kemudian
mengecup kening Cristy sambil menarik kembali genggaman payung birunya dari
tangan Cristy.
“I miss you.”
Ucap Tristan sambil mengembangkan senyuman. Kini senyum menyebalkan berganti
dengan senyum penuh perhatian yang membuat hati Cristy meleleh.
Di tengah taman
bunga, dibawah guyuran hujan deras dan dibawah perlindungan payung biru dalam
genggaman Tristan. Cinta Mereka Bersemi.
THE END
Langganan:
Komentar (Atom)

